Laman Kami

Showing posts with label Opini Publik. Show all posts
Showing posts with label Opini Publik. Show all posts

Tuesday, May 14, 2019

Ramadhan kok Warung siang hari Di Razia?

Ramadhan kok Warung siang hari Di Razia?


https://assets.jalantikus.com/assets/cache/1380/600/gokil/2016/08/23/krusty-krab.jpeg


"Saat Ramadhan, Warung Siang Hari biarkan saja di buka gak perlu di Tutup. Yang perlu di tutup itu Hawa Nafsunya"

Coba deh kita open mind...

Di Bali saat hari Nyepi, kita menghargai hari rayanya Umat Hindu untuk tidak beraktivitas di hari Nyepi...

Pola pikir itu ( Lihat Paragraf Pertama )  yang menurut mereka toleransi justru menciderai toleransi itu sendiri...

Saya gak kebayang, kalo generasi muda sekarang punya pola pikir seperti itu.

Itu sama dalil dan doktrin yang dimiliki oleh orang liberal yang jauh dari prinsip kemanusiaan apalagi agama...

Kita lihat bagaimana dalil orang liberal saat prostitusi di tutup? Dalil nya sama kaya paragraf awal.

"Yang perlu di tutup itu bukan prostitusi nya tapi adalah nafsu dan rasa paling benar sendiri".

Sumpah, kacau... Kalo gitu gak perlu juga dong narkoba di larang edar. Edarkan aja gak perlu di razia. Yang penting ajarkan tentang bahaya narkoba kpd rakyat

Asli kacau bin absrud...

Indonesia ini negara muslim terbesar dan juga negara yang menganut nilai nilai agama.

Sudah sepatutnya saling menghargai. Bukan malah buka warung terang terangan  di siang hari saat mayoritas umat Islam sedang menjalankan ibadahnya.

Sama halnya ketika Umat Hindu sedang Nyepi. Kita umat Islam jangan juga terang terangan beraktivitas atau jualan di hari Nyepi. Kenapa? Karena menghargai!

Coba inget - inget kembali deh ajaran orang tua dulu kita. Saat kita masih kecil dan tidak berpuasa atau puasa cuman tengah hari. Apa yang orang tua kita bilang?

"Nak, Makannya ngumpet ya. Malu sama orang!

#Semangaaaat

Oleh : Rafi Adly | Tangerang, 15-05-2019

Wednesday, November 14, 2018

Manusia Kanibal?

Manusia Kanibal?
(Oleh Rafi Adly, S.Sos)


https://banner2.kisspng.com/20180420/pgw/kisspng-plants-vs-zombies-clip-art-cartoon-hospital-5ad9a8af45e136.7142552615242139352862.jpg
Sumber Foto : https://banner2.kisspng.com/20180420/pgw/kisspng-plants-vs-zombies-clip-art-cartoon-hospital-5ad9a8af45e136.7142552615242139352862.jpg
Assalamu'alaykum sahabat Blogger...

Apa kabar? semoga sehat slalu dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Ngomong-ngomong ada yang tahu apa itu kanibal? ya, kanibal adalah fenomena dimana satu makhluk memakan makhluk sejenisnya, kaya manusia makan daging manusia. Kebayangkan? jijik, pengen muntah atau pengen berkata kasar? ,"Itu orang punya otak gak si?!

Nah tau gak sahabat blogger kalo kanibalisme itu ada di dalam Al-Qur'an sebagai perempumaan dari kondisi sosial tertentu. tepatnya disurat Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT berfirman :

"Wahai Orang orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya sesudah mati? tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang".

Dari ayat diatas dapat kita pahami sahabat blogger kalo Allah SWT menyuruh kita untuk menjauhi saling berprasangka, mencari-cari kesalahan dan saling menggunjing sebagaimana kita merasa jijik dengan seseorang yang memakan daging saudaranya sendiri setelah mati alias kanibalisme. Mengingat di Negeri kita tercinta ini ditahun politik banyak banget berita hoax, saling caci, persahabatan renggang, keharmonisan di uji hanya karena perbedaan pilihan politik.

Media sosial penuh dengan berita berita kosong yang semuanya seperti diperuntukan hanya untuk memperoleh margin elektabilitas belaka tanpa memikirkan nilai nilai edukatif bagi masyarakat. Entah siapa yang berada dibelakang semua ini. Tapi yang jelas kondisi social seperti ini harus kita kendalikan dan hentikan.

Please, be smart! Saling berprasangka, mencari-cari kesalahan dan saling menggunjing tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Terkhusus untuk saudara saya sesama muslim. Ingat bagaimana susah payahnya rasulullah salallahu‘alaihi wassalam menyatukan kaum muhajirin dan anshor sampai mereka bisa saling mencintai sebagaima mereka mencintai dirinya sendiri.

Tulisan sederhana ini bukan untuk menyudutkan atau mengunggulkan golongan tertentu ini murni dari rasa prihatin melihat kondisi sosial saat ini dengan harapan kita bisa saling menghargai perbedaan pilihan politik dan saling menasehati dengan santai dan santun tanpa harus terbakar amarah. Sekian, Terimkasih.

#TetapSemangat

Tuesday, October 24, 2017

Kelihatan gampang, tapi ternyata sulit

Kelihatan gampang, tapi ternyata sulit
 (karya: Rafiud Sudrajat, S.Sos)


Sumber Foto : http://kakakpintar.com/kaidah-penggunaan-tanda-tanya-di-bahasa-inggris/

Halo kid’s bloger zaman now, jumpa lagi nih dengan saya. Kali ini kita bakal membahas mengenai hal-hal yang kelihatannya mudah, tapi ternyata sulit dilakukan. Penasaran? tanpa berlama-lama lagi, yu mari dicek.

1. Menjahit pake mesin jahit.


 Siapa sih yang gak pernah lihat tukang jahit? Pasti semuanya pernah. Tukang jahit baju, celana, tas, atau tukang jahit hati yang terluka karena masih belum bisa move on dari para mantan, hehehe. Nah kalo kita perhatikan, kadang kita menganggap bahwa pekerjaan menjahit adalah hal yang sederhana. Tinggal duduk, terus mulai dah menjahit pake mesin. Modalnya cuma benang, jarum, gunting, dan mesin jahit terus goyang-goyang kaki sambil duduk. Tapi, ternyata itu gak semudah yang kita bayangin, kita mesti menguasai tekhnik menjahitnya dulu, dan mesti hati-hati dengan jarumnya. Sebab kalo gak hati-hati, jari bisa ketusuk jarum. Bukan itu aja, kita juga harus menahan pegal pas duduk. Semoga aja para tukang jahit gak kena ambeien atau encok yah

2. Bernyanyi


Semua orang sepakat bahwa menyanyi adalah hal yang menyenangkan, sebab mampu membuat kita melupakan sejenak masalah. Entah masalah dengan lingkungan kerja, pergaulan, atau skripsi yang gak kelar-kelar. Tapi tunggu dulu, bernyanyi juga harus ada aturannya, kayak misalnya intonasi suara, pengaturan nafas, kesesuaian dengan nada yang dimainkan,tinggi rendahnya nada,  serta suara yang oke. Jika kita tidak mengikuti aturan yang ada, maka hasilnya bernyanyi malah jadi gak asik dan bikin orang yang mendengar malah terganggu.

3. Bertemu dosen pembimbing skripsi


Bagi yang pernah kuliah, atau saat ini masih bermesraan membangun cinta dengan makhluk bernama skripsi, pasti tahu sendiri dong gimana sulitnya  hal yang satu ini. Penulis juga merasakannya dahulu. Gak segampang seperti yang dibayangkan. Kita udah semangat mau ketemu dosen untuk bimbingan, eh tiba-tiba kadang dosennya mendadak gak bisa ketemu dengan beragam alasan. Mengingkari perjanjian yang sudah disepakati sebelumnya.  Bisa dibilang kita jadi korban PHP dosen. Singkat kata, dosen pembimbing di masa-masa ini diibaratkan seperti Avatar the legend of Aang, saat dibutuhkan, dia menghilang. 

4. Menghapus history chat sama gebetan


Sederhana memang kelihatannya, tapi percaya deh, ini tuh bagi sebagian orang sulit dilakukan. Berat banget mau menghapus atau membersihkan riwayat chat sama gebetan. Ada yang bilang banyak kenangannya, sayang mau dihapus atau bahkan  karena mau pamer ke temen-temen biar jadi bukti  kalo kita bentar lagi  pensiun dari jomblo karena sudah punya gebetan. 

5. Mengartikan perkataan cewek


Cewek memang salah satu makhluk indah tapi unik. Saking uniknya mereka, sampe kata-kata mereka pun juga unik dan sulit untuk dimengerti maksudnya bagi sebagian cowok, seperti kalimat: “aku gak apa-apa’,” terserah, kamu tuh gak peka, dan sederet kata lainnya yang masih menjadi misteri.


Mungkin buat sekarang hanya itu aja yang dapat saya sampaikan. Lebih dan kurangnya mohon maaf, sampai jumpa di artikel lainnya. Instagram:rafiud_21sudrajat. 


         

Tuesday, October 3, 2017

Atas Nama Kesucian Ideologi Pancasila (Opini Kritis Dan Empiris Polemik Perppu Ormas 2017)

Atas Nama Kesucian Ideologi Pancasila
(Opini Kritis Dan Empiris Polemik Perppu Ormas 2017)

Atas nama kesucian Pancasila

Pancasila yang telah disepakati menjadi ideologi bangsa Indonesia merupakan nilai-nilai yang harus diimani oleh segenap masyarakat yang mengaku bagian dari bumi pertiwi. Bukan tanpa alasan! Pancasila merupakan kumpulan dari berbagai macam hipotesis ideologi yang disintesiskan menjadi satu bangunan universal yang terdiri dari lima poin luhur. Begitu tingginya universalitas pada bangunan Pancasila sehingga membuat bentuk pengamalan Pancasila dapat dilakukan dengan beragam cara. Pancasilapun merupakan salah satu stimulus pemicu gerakan pemikiran masyarakat yang dinamis. Semua gerakan pemikiran “yang matang” selalu berujung pada institusionalisasi bentuk gerakan dengan mendirikan suatu lembaga (ormas/komunitas) yang menjadi manifestasi dari pemikiran suatu kelompok masyarakat yang memiliki pandangan yang sama.


Alih-alih ingin terlihat menjadi garda terdepan dalam melindungi ideologi bangsa, Pemerintah dengan gaya bebas meluncurkan Perppu baru yang mengekang gerak masyarakat yang demokratis. Pemerintah yang seharusnya menjadi jembatan dalam menciptakan masyarakat adil dan makmur atas rahmat tuhan yang maha Esa malah menjadi benalu yang memiliki otoritas tak terbatas. Pemerintah menjadi pemisah struktur masyarakat. Ia telah kehilangan sentuhan dan perasaan kemanusiannya. Kini masyarakat tidak mampu melakukan kritik kepada Pemerintah atas situasi yang terjadi di masa kini kerena kehilangan lembaga formalnya. Pemerintah tidak lagi mampu membimbing masyarakat ke arah tujuan yang seharusnya dituju dengan menjelaskan unsur-unsur yang krusial bagi pengembangan potensi bangsa. Pemerintah tidak lagi memiliki keprihatinan atas nasib masyarakat yang miskin dan bodoh yang tidak mampu memikirkan nasibnya sendiri serta mencapai kehidupan yang ideal. Jika Pemerintah tidak sanggup menjalankan tugasnya sendiri, maka siapa lagi yang bisa membantu Pemerintah dari luar lembaga kepemerintahan selain masyarakat dengan ormasnya.


Berbagai alibi dilontarkan oleh Pemerintah. Alasan fundamental dibentukanya Perppu Ormas 2017 (Peraturan Pemerintah Penganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas UU No 17/2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan) adalah lamanya proses yang harus dilalui jika mengikuti Undang-Undang Ormas yang lama. Tentu saja, alibi klasik ini tidak dapat diterima oleh manusia yang masih dianugerahi tuhan untuk berfikir. Pasalnya, jika itu yang menjadi alasan utama, ormas yang menjadi objek dari Perppu tersebut harus melalui proses yang panjang jika ingin menggugat balik. Ini merupakan bentuk ketidakadilan hukum yang nyata. Terbukti! Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) hanya melalui proses satu minggu tanpa dialog dan proses pengadilan, Rabu 19 Juli 2017 Pemerintah dengan sepihak mencabut status badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sedangkan dalam proses pembelaan, Hizbut Tahrir Indonesia harus melalui proses panjang hingga waktu yang tak bisa dipastikan. 


Hizbut Tahrir Indonesia yang namanya sangat dikenal akhir-akhir ini memang nampak terlihat memiliki konsep kepemimpinan yang berbeda dengan sudut pandang ormas Indonesia pada umumnya. Namun bila ditelisik lebih jauh, konsep kepemimpinan Hizbut Tahrir Indonesia adalah konsep kepemimpinan peninggalan ulama muslim terdahulu. Dengan kata lain, konsep Hizbut Tahrir Indonesia adalah konsep dari suatu penafsiran Agama Islam itu sendiri yang sudah tentu tidak bertentangan dengan Pancasila. Toh, selama kiprahnya di Indonesia yang dimulai pada tahun 1980-an hingga saat ini, HTI tidak pernah melakukan demonstrasi anarkis, pemboikotan, kudeta, dan konfrontasi terhadap Pemerintah, bahkan HTI pernah mendapat piagam penghargaan sebagai demonstrasi paling tertib oleh Kapolda Metro Jaya. Lalu, dimana letak kondisi genting dan mengancam yang menjadi alasan dasar atas lahirnya Perppu.


Sekarang coba kita reverse logika berfikir kita. Katakan saja HTI adalah ormas yang anti Pancasila dan pengadilan memutuskan untuk menolak gugatan HTI meskipun banyak masyarakat yang mendukung HTI. Ormas HTI saja yang sudah menjadi organisasi trans-nasioanal tidak dapat mempertahankan organisasinya hanya karena dituduh anti-Pancasila apalagi ormas-ormas dakwah kecil yang tidak memiliki sumber kekuatan yang besar. Maka bisa kita bayangkan dikemudian hari, Pemerintah bisa dengan seenaknya membubarkan suatu organisasi hanya karena dituduh anti-pancasila. Jangan heran jika dikatakan bahwa Perppu ormas ini bukan dirancang untuk melenyapkan ormas anti-pancasila melainkan untuk melenyapkan ormas yang tidak setuju dengan kebijakan Pemerintah. Akibatnya, Pemerintah dapat melakukan kesewenang-wenangan atas nama Pancasila dan keadilan dengan hukum yang sah. Sejarah mencatat bahwa setiap rezim memiliki tafsir eksklusif tersendiri tentang Pancasila. Setiap rezim mengaku dirinyalah yang Pancasilais. Perppu sangat dikhawatirkan hanya menjadi alat bagi para penguasa untuk menghabisi lawan “politiknya” dengan dalih melindungi kesucian Pancasila.


Selain itu, langkah Pemerintah dengan mengeluarkan Perppu Ormas 2017 sama saja mencederai budaya asli bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi musyawarah. Tanpa dialog dan sikap elegan, Pemerintah justru menampilkan wajah “Premanisme kaum Elit” dengan memukul dan menghabisi siapa saja yang dianggap atau dituduh anti-Pancasila menurut tafsir eksklusifnya. Sikap ini yang menimbulkan rasa diskriminasi terhadap Ormas Islam sehingga muncul opini yang terus berkembang pada masyarakat bahwa Pemerintah masa kini merupakan rezim anti-Islam. Coba sekarang kita bandingkan. Komunitas Lesbian, Guy, Biseksual, Transgender, Interseksual, dan Queer (LGBTIQ) yang jelas berntentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dan menyimpang dari lima butir Pancasila serta mengancam moral anak bangsa justru mendapat ruang dialog dan rangkulan dari Pemerintah bahkan mendapatkan penghargaan Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada tahun 2016 yang juga dihadiri oleh Menteri Agama.


Sebenarnya yang menjadi inti permasalahan bukanlah Perppu Ormasnya. Perppu Ormas hanyalah sebagai “icon” dari bentuk kedzaliman dan ketidakadilan yang dilindungi hukum dari suatu rezim. Polemik Perppu Ormas merupakan sebuah realitas agar masyarakat sadar bahwa hak mereka dalam berbangsa dan bernegara telah dirampas oleh permainan pihak yang memiliki otoritas. Jika ini dibiarkan, kesewenang-wenangan dalam bentuk lain pasti akan terjadi. Ini merupakan contoh kecil bahwa Pemerintah hanya memprioritaskan kepentingan sekelompok orang licik dan meninggalkan penduduknya dalam kebodohan dan kemeralatan. Atas nama wibawa otoritas, memerangi radikalisme, dan hak asasi manusia, Pemerintah dapat membubarkan suatu Organisasi Kemasyarakatan yang positif dan konstruktif. Akhirnya Pemerintah Tirani berlindung dibalik keselamatan publik (public safety), ketertiban publik (public order), kesehatan publik (public heatlth), moral publik (public morals), serta pelindungan hak dan kebebasan (rights and freedom).


Sebagai penutup dari catatan kecil ini, penulis tidak bermaksud untuk menjadi pihak yang memperkeruh suasana. Jika terdapat kata-kata yang terlihat tendensius, mohon untuk dipahami dan direnungi kembali bahwa penulis hanya bermaksud memberikan pencerahan kecil kepada sesama makhluk tuhan. Memang masih banyak permasalahan yang lebih penting untuk dibahas seperti melonjaknya hutang Indonesia, kekurangan air di berbagai pelosok desa, tingginya tingkat kriminal pada pelajar, dan kebijakan Pemerintah yang “absurd” lainnya. Keterbatasan wawasan yang dimiliki oleh penulis membuat penulis hanya mampu beropini tentang persoalan yang menjadi judul dari tulisan ini. Mohon dimaklumi jika ditemukan kalimat-kalimat yang terlalu elementer. Ini semua merupakan gambaran dari opini yang berkembang di sebagian masyarakat terutama pemuda. May God speed!

Oleh : Zakiyulfikri Ali dan Rafi Adly (Aktifis UIN SGD Bandung)
IG : @zaky @rafiadly29


Jasa NIB Perorangan Jakarta | 081394494132

 Jasa NIB Perorangan Jakarta | 081394494132 Assalamu'alaykum, Hallo sobat milenial, gak kerasa ya sudah 11 bulan lamanya kita hidup di e...